Kisah di Balik Lahirnya Surat Sakti Pahlawan I Gusti Ngurah Rai “Nilai luhur Pak Rai harus diteruskan generasi selanjutnya”

“Diorama tentang Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai di Monumen Tanah Aron, Kabupaten Karangasem. (dok.IDN Times/I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional, 2017)”

 

-Surat legendaris dari Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai yang dikirimkan kepada Toean Overste Termeulen pada tahun 1946 dikenal luas dengan sebutan Surat Sakti. Dalam surat tersebut, Pak Rai, begitu panggilan dari anak buahnya, secara tegas menyatakan Bali bukanlah tempat untuk perundingan diplomatik dan dirinya bukanlah seorang kompromis. Satu hal yang diinginkannya, atas nama rakyat, adalah Belanda lenyap dari tanah kelahirannya.

Berikut isi surat tersebut:

…..tgl. 18 Mei 1946

Kepada Yth.

Toean Overste Termeulen

di

Denpasar

Merdeka!

          Surat telah kami terima dengan selamat. Dengan singkat kami sampaikan jawaban sebagai berikut.

          Tentang keamanan di Bali adalah urusan kami. Semenjak pendaratan tentara tuan, pulau menjadi tidak aman. Bukti telah nyata, tidak dapat dipungkiri lagi. Lihatlah, penderitaan rakyat menghebat. Mengancam keselamatan rakyat bersama. Tambah-tambah kekacauan ekonomi menjerat leher rakyat. Keamanan terganggu, karena tuan memperkosa kehendak rakyat yang telah menyatakan kemerdekaannya. 

         Soal perundingan, kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin-pemimpin kamu di Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomatik. Dan saya bukan kompromis. Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari pulau Bali atau kami sanggup dan berjanji bertempur terus sampai cita-cita kami tercapai. Selama tuan tinggal di Bali, pulau Bali tetap menjadi belanga pertumpahan darah, antara kami dan pihak tuan. 

       Sekian, harap menjadikan maklum adanya. 

Sekali merdeka, tetap merdeka!

a/n. Dewan Perjuangan Bali

Pemimpin:

I Gusti Ngurah Rai 

Sebelumnya, pada 13 Mei 1946, I Gusti Ngurah Rai menerima sebuah surat dari Kapten Infanteri J.B.T.Konig, yang isinya sebagai berikut:

         Rai yang Budiman, 

         Kami, Letnan Kolonel Termeulen dan saya (kamu tentu masih ingat kepada kami), mengetahui betul atas dorongan apa kamu terpaksa mau memimpin TKR. Karenanya kami ingin sekali berbicara padamu. Cobalah mencari hubungan dengan Kapten Cassa di sekitar desa Pelaga, kemudian di sana kita bisa saling bicara. 

          Adapun keputusanmu setelah pembicaraan itu, kamu dengan penuh kebebasan dapat menentukan ke mana kamu suka. 

1. Surat Sakti itu ditulis di tengah semak belukar

“Sketsa yang menunjukkan pertempuran di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, yang dikenang sebagai Perang Margarana. (dok.IDN Times/I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional, 2017)”

 

Dalam buku berjudul I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional, Sisi-sisi Humanis dalam Perang Kemerdekaan Indonesia di Bali, disebutkan bahwa Surat Sakti tersebut dituliskan di tengah hutan belukar, dengan ketenangan jiwa, dan keikhlasan berkorban untuk bangsanya. Buku tersebut ditulis oleh Wayan Windia, Wayan Sudarta, dan I Made Suarsa, diterbitkan oleh Udayana University Press pada tahun 2017.

Diceritakan, ketika Pak Rai menerima utusan yang membawa surat dari musuh perangnya, ia hanya menerimanya dengan tersenyum saja. Meskipun sebenarnya ketika utusan tersebut, yang juga berasal dari keluarga besar puri, menyampaikan ancaman Belanda. Sebagaimana laporan kesaksian dari I Gusti Ngurah Pindha, apabila Pak Rai tidak mau berunding, Belanda akan menghancurkan dan meratakan dengan tanah tempat kelahiran Pak Rai, yakni Puri Carangsari.

Jelas bahwa tawaran perundingan dari Belanda hanyalah sebuah taktik untuk menangkap Pak Rai dan ketika berhasil menjadikannya tahanan, akan dibuang ke luar Bali. Taktik yang sama telah dilakukan kepada Pangeran Diponogoro di tanah Jawa.

Bukanlah hal yang mudah bagi Pak Rai untuk menjawab surat tersebut. Terlebih dalam kondisi perang kemerdekaan dan menghadapi berbagai persoalan, baik terkait masalah personil, logistik, maupun persenjataan. Apalagi yang mengirimkan surat itu, JBT Konig, sesungguhnya bisa dikatakan adalah bekas sahabatnya. Mereka pernah di satu perguruan. Surat balasan Pak Rai kepada musuhnya itu dipahat di Candi Margarana, Kabupaten Tabanan.

Istilah Surat Sakti diperkenalkan oleh Ketua Markas Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia (Mada LVRI) Bali, Ketut Gde Dharma, ketika ia berkeliling Bali untuk menyebarluaskan isi dan semangat surat itu kepada tokoh masyarakat serta para pemimpin daerah. Inisiatif tersebut didukung oleh Pemuda Panca Marga (PPM). Gerakan itu dilakukan pada tahun 1980-an, di tengah gencarnya pembangunan fisik yang menyebabkan pembangunan karakter seakan dilupakan.

2. Meninggalkan kenikmatan sebagai orang puri untuk berjuang

“Pahlawan I Gusti Ngurah Rai bersama istri, Desak Putu Kari. (dok.IDN Times/I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional, 2017)”

 

I Gusti Ngurah Rai lahir di kalangan puri. Namun ia memilih untuk meninggalkan Puri Carangsari dan mengorbankan semuanya untuk biaya berperang. Suami dari Desak Putu Kari tersebut selalu menunjukkan teladan kepada prajurit-prajurit yang dipimpinnya. Dia selalu makan dan minum setelah semua anak buahnya mendapatkan bagian mereka. Ia juga tegas memberi peringatan kepada pasukannya, dalam keadaan haus dan kelaparan sekalipun, dilarang mengambil hasil bumi milik para petani di ladang.

Selain dikenal sebagai sosok yang tegas, ia juga sangat lembut dan penuh kasih. Bahkan tak segan Pak Rai memaafkan dan memberi ampun mata-mata musuk dan para pengkhianat bangsa. Walaupun sebenarnya mereka sudah siap untuk dibunuh. Pak Rai menyebut pasukannya sebagai Resimen Ciung Wanara. Namun pasukan yang dipimpinnya, bahkan sampai sekarang bila ada yang bercerita, tetap saja menyebut sebagai Resimen Ngurah Rai.

Karenanya, Surat Sakti  yang ditulis Pak Rai hingga kini selalu menjadi acuan, terlebih bila ada yang bermasalah dalam kehidupan sosial politik masyarakat. Surat tersebut diyakini memiliki nilai-nilai yang universal dan tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Terutama untuk para pemimpin bangsa dan generasi muda Indonesia, sebagai sebuah keteladanan sosial.

3. Surat Sakti yang asli sampai sekarang masih ada di Belanda

“Ketiga putra pahlawan I Gusti Ngurah Rai. I Gusti Ngurah Gede Yudana (kiri), I Gusti Nyoman Tantra (tengah), dan I Gusti Ngurah Alit Yudha (kanan). (dok.IDNTimes/I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional, 2017)”

 

Diketahui, bahwa Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai yang asli sampai sekarang masih ada di Belanda. Putra sulung I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ngurah Gede Yudana (79), mengungkapkan sedang berusaha agar surat tersebut bisa kembali ke Tanah Air.

“Pihak Belanda katanya akan mengembalikan surat tersebut, semoga memang bisa segera dikembalikan,” ucap Yudana yang juga ketua Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, belum lama ini.

Yudana berharap semangat dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh I Gusti Ngurah Rai bisa diteruskan oleh generasi berikutnya. Terutama dalam situasi yang sulit seperti pandemik ini. Bagaimana masyarakat bisa saling membantu satu sama lain, para pemimpin tidak hanya memikirkan dan memperkaya diri sendiri.

“Pertanyaan untuk diri kita sendiri, apakah kita bisa meneruskan semangat itu? Apakah kita sudah melakukannya?” tegas Yudana.

 

Sumber :https://bali.idntimes.com/science/discovery/ni-ketut-sudiani/kisah-surat-sakti-pahlawan-ngurah-rai/3

Editor Team : Ni Ketut Sudiani & Irma Yudistirani

Share ke temanmu ya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *