PASCA-PUPUTAN MARGARANA, PERJUANGAN KEMERDEKAAN DI BALI TERUS BERLANJUT

Perlu dicatat, bahwa terjadinya peristiwa Puputan Margarana, tidak berarti perjuangan kemerdekaan Indonesia di Bali telah berakhir. Puputan Margarana dapat diartikan sebagai suatu prtempuran atau perang sampai titik darah penghabisan yang dilakukan oleh  Pasukan Ciung Wanara melawan serdadu kolonial Belanda di Desa Marga. Selama perang kemerdekaan di Bali (13 Desember1945 s.d 15 Januari 1950), telah terjadi 131 pertempuran atau peristiwa, sedangkan Puputan Margarana merupakan pertempuran yang ke-36.  Fakta ini memberikan pengertian, bahwa seteleh Puputan Margarana terjadi berbagai pertempuran atau peristiwa lain untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  Sesudah Puputan Margarana, perjuangan kemerdekaan di Bali tetap terus berlangsung secara teratur dan berkobar, sesuai dengan strategi yang telah digariskan oleh pemimpin perjuangan kemerdekaan pada masa itu.  Pemimpin atau pucuk pimpinan perjuangan kemerdekaan di Sunda Kecil (di Bali) setelah Puputan Margarana bernama I Made Widjakusuma yang lebih dikenal dengan nama samaran Pak Jolo pada masa perjuangan kemerdekaan.

Perjuangan kemerdekaan di Bali pada waktu itu didukung oleh pembinaan wilayah yang dilakukan dengan mantap dan terjalin dengan baik, dalam suatu bentuk perlawanan rakyat semesta.  Tidak terhitung jumlahnya dari seluruh lapisan masyarakat ikut secara aktif melakukan perlawanan terhadap serdadu kolonial Belanda dengan kemasan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).  Betapa hebatnya peranan laskar rakyat (pasukan bersenjata tradisional) yang berintikan pemuda gerilya (pasukan bersenjata modern) dalam membela kemerdekaan Indonesia.

Patut diketahui, bahwa Pucuk Pimpinan Dewan Perdjoeangan Rakjat Indonesia (DPRI)  Sunda Kecil dengan cepat diambil alih oleh I Made Wijakusuma alias Pak Joko, didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut.  (1) I Made Wijakusma merupakan orang kedua setelah I Gusti Ngurah Rai dalam struktur organisasi perjuangan kemerdekaan DPRI Sunda Kecil tersebut.  Markas organisasi perjuangan ini disebut Markas Besar Oemoem (MBO) DPRI Sunda Kecil. Berkedudukan di Banjar Munduk Malang, Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan.  (2) Posisi I Gusti Ngurah Rai sebagai Pucuk Pimpinan DPRI Sunda Kecil, dipercayakan kepada I Made Widjakusuma. Hal ini terjadi, pada waktu atau selama I Gusti Ngurah Rai dan beberapa orang perwira bertugas di Jawa, sebagai ekspedisi pejuang Bali ke Jawa.  (3) I Made Widjakusuma pada zaman pendudukan Jepang di Bali, pernah menjadi Kepala Senendan dan mendapat latihan militer Jepang di Desa Banyumala, Kota Singaraja selama satu bulan.  (4) I Made Wijakusuma juga memegang jabatan sebagai Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) Bali. Ia mempunyai pengaruh besar dalam gerakan laskar rakyat.  (5) I Made Widjakusuma berperan dalam usaha penyelundupan senjata dari Jawa ke Bali.  Senjata itulah yang mempersenjatai Badan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selanjutnya TKR berubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan I Made Widjakusuma menjadi terkenal terutama di kalangan pejuang kemerdekaan di Bali. Keadaan itu mendorong I Made Widjakusuma dengan cepat mengambil alih Pucuk Pimpinan DPRI Sunda Kecil. Setelah I Gusti Ngurah Rai gugur sebagai kusuma bangsa dalam peristiwa Puputan Margarana.  Pengambilalihan Pucuk Pimpinan DPRI Sunda Kecil tersebut, dilakukan melalui rapat kilat pada 22 November 1946 di Desa Buahan, Kabupaten Tabanan.  Rapat itu dihadiri oleh Pimpinan DPRI Tabanan, DPRI Badung, dan Pimpinan DPRI Sunda Kecil.  Tentu rapat tersebut tidak semata-mata membentuk susunan pimpinan DPRI Sunda Kecil yang baru. Akan tetapi yang lebih penting, untuk mengatasi kevakuman pimpinan. Sebab, beberapa orang unsur pimpinan DPRI Suda Kecil yang militan, gugur dalam Puputan Margarana.  Degan teratasinya masalah kevakuman pimpinan tersebut, berarti program perjuangan kemerdekaan dapat dilanjutkan.  Hal itu berarti pula, perjuangan kemerdekaan Indonesia di Bali terus berlanjut.

Rapat tersebut berhasil membentuk susunan pimpinan DPRI Sunda Kecil yang baru, tetapi bersifat sementara sebagai berikut:

 

Pucuk Pimpinan : I Made Widjakusuma
Wakil Pucuk Pimpinan : I Gusti Ngurah Mataram
I Ketut Wijana
Inteligence Service : 1. I Nyoman Mantik
2. Ida Bagus Tantra
3. I Wayan Noor Rai
4. Cokorda Agung Tresna
5. Puger
Sekretaris : 1. Kompiang Sujana
2. I Gusti Lanang Rai
Penerangan : 1. I Gusti Ngurah Anom
2. Alit
Urusan Makanan : Putra
Kepala Gabungan I : I Gusti Ngurah Mataram
Kepala Gabungan II : Gelebes
Kepala Gabungan III : I Made Suwija
Kepala Gabungan IV : AA Anom Mudita
Kepala Gabungan V : Wija
Kepala Gabungan VI : I Made Gede
Kepala Gabungan VII : I Gusti Ngurah Jendra
Penghubung : Subroto Aryo Mataram

 

Dilihat dari segi struktur dan jumlah personalianya, pimpinan DPRI Sunda Kecil yang baru dan bersifat sementara ini, lebih sederhana daripada pimpinan DPRI Sunda Kecil sebelumnya.  Pimpinan DPRI Sunda Kecil yang baru ini, tanpa dibarengi dengan rencana kerja atau program perjuangan kemerdekaan yang baru.  Ini artinya, pimpinan yang baru melanjutkan program perjuangan kemerdekaan pimpinan sebelumnya.

Disadari oleh I Made Widjakusuma, bahwa Pimpinan DPRI Sunda Kecil  yang terbentuk dalam rapat 22 November l946 di Desa Buahan, merupakan pimpinan yang bersifat sementara.  Oleh karena itu, di dalam dirinya selalu berjanji segera mengadakan rapat untuk memilih pemimpin DPRI Sunda Kecil yang definitif.   Namun beberapa kali direncanakan rapat mengalami kegagalan, karena ada hambatan tertentu.  Akhirnya, rapat baru bisa diadakan pada 4 s.d 6 April l947, yakni sekitar 4,5 bulan kemudian di Desa Banyuning, Kabupaten Buleleng.  Rapat ini selain dihadiri oleh pimpinan DPRI Provinsi Sunda Kecil, juga dihadiri oleh pimpinan DPRI kabupaten se Bali.  Rapat tersebut berhasil membentuk pimpinan DPRI Provinsi Sunda Kecil yang baru lengkap dengan program perjuangannya, seperti yang akan dikemukakan berikut ini.

 

Pucuk Pimpinan II : I Nyoman Mantik
Pucuk Pimpinan III : I Wayan Noor Rai
Sekretaris Merangkap Bendahara : Kompiang Sujana
Bagian Siasat I : I Gusti Ngurah Mataram
Bagian Siasat   II : I Ketut Wijana
Bendahara Umum I : Ida Bagus Tantra
Bendahara Umum II : Jaya
Penghubung : Subroto Aryo Mataram

 

Sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang dihadapi, maka program perjuangan kemerdekaan Pimpinan DPRI Provinsi Sunda Kecil yang baru, dirumuskan sebagai berikut.

(1) Program umum disusun atas dasar kekuatan dan kelemahan persenjataan dan politik perjuangan pemerintah Indonesia di Jawa, yakni gerakan militer pasif dan politik aktif.  Penerangan ke dalam dan keluar untuk memelihara semangat perjuangan pemuda dan rakyat, serta menyatakan sebagai organisasi yang masih tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Berkaitan dengan itu, perlu diadakan persiapan.

(2) Pulau Bali dibagi menjadi tiga daerah perjuangan dan pada setiap daerah perjuangan ada seorang perwakilan DPRI Sunda Kecil.  Pembagian tiga daerah perjuangan itu sebagai berikut.  Daerah Perjuangan I (DP I) meliputi kabupaten Klungkug, Karangasem, dan Bangli, di bawah koordinator I Made Widjakusuma.  Daerah Perjuangan II (DP II) meliputi kabupaten Gianyar, Badung, dan Tabanan di bawah koordinator I Nyoman Mantik.  Daerah Perjuangan III (DP III) meliputi kabupaten Buleleng dan Jembrana di bawah koordinator I Wayan Noor Rai.

(3) Mengirim kurir ke Jawa, untuk melaporkan peristiwa Puputan Margarana yng terjadi pada 20 November l946.

Apabila dicermati program perjuangan DPRI Sunda Kecil tersebut, lebih dititikberatkan di bidang politik daripada di bidang militer. Ini tidak berarti kegiatan militer ditiadakan. Kegiatan militer lebih bersifat defensif (bertahan) daripada ofensif (menyerang), apalagi perang frontal. Hal ini dimaksudkan agar kekuatan di bidang militer dapat disusun kembali, sambil menunggu bantuan dari pemerintah pusat di Yogyakarta.  Selain itu, kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk memupuk kembali semangat dan kesetiaan rakyat terhadap perjuangan kemerdekaan, karena rakyat merupakan basis perjuangan.

Sebetulnya program perjuangan kemerdekaan tersebut, merupakan pokok-pokok pikiran I Made Widjkusuma.  Sebab I Made Widjakusuma selalu yakin bahwa dengan menguasai masyarakat desa secara bulat, maka serdadu Belanda yang akan memasuki desa akan buta.  Oleh karena itu dalam kepemimpinan I Made Widjakusuma selalu menjunjung tinggi kedaulatan rakyat.  Siapa saja berani mempermainkan rakyat, mereka akan diancam hukuman mati.  Hukuman seperti itu telah dilaksanakan secara konsisten pada masa kepemimpinannya.  Itulah makanya, semangat rakyat untuk mendukung dan membela perjuangan kemerdekaan kembali bangkit menggelora setelah peristiwa Puputan Margarana.

Mengayomi rakyat dengan semangat disiplin yang tinggi, merupakan prinsip yang dipegang teguh pada masa perjuangan kemerdekaan itu.  Tatkala itu Pimpinan DPRI Provinsi Sunda Kecil mengeluakan undang-undang yang terkenal dengan sebutan Undang-Undang Darurat.  Setiap anggota pejuang kemerdekaan yang bersalah dan tidak mengayomi rakyat, dikenakan sanksi yang setimpal dengan kesalahannya.  Sanksi seperti itu dilakukan secara disiplin dan konsisten.  Hal ini menyebabkan perjuangan kemerdekaan menjadi tertib.  Rakyat merasa diayomi dan percaya dengan tindakan para pejuang kemerdekaan (pemuda gerilya dan laskar rakyat).  Simpati rakyat akhirnya semakin besar berpihak kepada perjuangan kemerdekaan.

Gerakan di bawah tanah ketika itu menjadi sangat penting. I Ketut Wijana dan I Wayan Noor Rai mendapat tugas untuk mengkoordinasikan gerakan di bawah tanah di Kabupaten Buleleng dan Jembrana. Gerakan ini dinamakan Gerakan Rahasia Rakyat Indonesia (GRRI).  GRRI sangat efektif dan perjuangan kemerdekaan bertambah mantap. Terutama, dalam upaya pengalihan gerakan dari militer aktif menjadi militer pasif.  Gerakan ini memberikan hasil yang baik. Efektif untuk mempengaruhi musuh, baik yang bersenjata modern maupun yang tidak bersenjata (mata-mata musuh). Agar mereka memihak kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Kurang lebih 100 orang polisi dan beberapa orang serdadu Belanda dapat dipengaruhi dan berbalik memihak kepada pemuda pejuang kemerdakaan.  Mereka inilah secara sembunyi-sembunyi mensuplai pemuda pejuang kemerdekaan dengan senjata dan amunisi.  Seorang serdadu Belanda bernama J. Brend dari suku Ambon, membawa ratusan granat dan amunisi ke kawasan hutan di tempat pemuda gerilya sedang menunggu.

GRRI dalam waktu singkat saja, menjadi sangat terkenal di kalangan masyarakat, terutama masyarakat perdesaan di Kabupaten Buleleng.  Susunan organisasinya sangat rapi, dengan anggota yang terlatih sehingga andal dalam menjalankan tugas.  Mereka masuk ke desa-desa dan diterima oleh rakyat secara antusias.  Tugas-tugas yang dijalankan oleh GRRI mencakup (a) melaksanakan sabotase, (b) melakukan penyusupan dengan cara menyamar, (c) melakukan intimidasi dengan bertopeng, (d) mengadakan serangan langsung dengan senjata modern, dan (e) melakukan perang urat saraf.

Serdadu Belanda yang dapat dipengaruhi oleh GRRI tersebut, dengan tegas mengatakan bahwa mereka siap lari meninggalkan pasukan mereka dan bergabung dengan pemuda gerilya di hatan-hutan.  Begitulah,  pengaruh GRRI sangat besar di kalangan sejumlah serdadu Belanda.  Hal ini terbukti dengan beberapa peristiwa sebagai berikut.

(1). Pimpinan DPRI Kabupaten Buleleng ketika mengadakan kunjungan ke Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dengan mudah memanggil polisi Belanda yang memihak pemuda gerilya (pro kemerdekaan Indonesia).  Polisi Belanda itu dengan sigap mengantarkan Pmpinan DPRI tersebut, dengan kendaraan milik Belanda.

(2). Pemuda gerilya mengadakan sabotase pada proyek listrik (ebalom) di Kota Singaraja, dengan melemparkan granat.  Tetapi polisi Belanda yang pro perjuangan kemerdekaan Indonesia mendiamkan saja peristiwa itu berlangsung.  Walaupun asrama polisi Belanda tersebut, sangat dekat dengan kejadian tersebut.

(3).  Beberapa tokoh pejuang kemedekaan Indonesia (pemuda gerilya) seperti I Ketut Wijana, I Putu Wenten, I Made Suwija, dan Mudana dalam upaya pembentukan GRRI di kawasan Buleleng Barat, berkeliling berkendaraan mobil Belanda yang dikemudikan oleh polisi Belanda yang mengenakan uniform lengkap.

Melalui cara-cara yang sangat rahasia seperti tersebut, pemuda gerilya dengan cepat dapat berhubungan satu sama lain. Informasi-informasi penting dengan cepat mengalir di antara sesamanya.  Dengan demikian program-program perjuangan kemerdekaan dapat berjalan secara lebih mudah dan lancar, karena ada koordinasi yang lebih intensif.

Pasukan Kucing Hitam di Kabupaten Tabanan, yang terdiri atas pemuda gerilya yang militan menjadi sangat terkenal, karena keberanian mereka menghadapi musuh penjajah dan mata-mata mereka.  Pasukan ini dipimpin oleh seorang pemuda gerilya   mantan Pembela Tanah Air (PETA) yang bernama I Made Kredek, dengan nama samaran Pak Kucing.  Pasukan ini dengan gagah berani melakukan penghadangan terhadap serdadu Belanda yang melintas di tikungan jalan raya.  Selain itu, pasukan ini juga sangat ganas tanpa mengenal ampun membasmi mata-mata Belanda.  Pasukan Kucing Hitam tatkala merajalela di wilayah Kabupaten Tabanan, mata-mata Belanda tidak lagi berani secara leluasa masuk desa.  Apabla ada yang berani, mereka selalu dibunuh oleh paskan ini.  Bahkan pada suatu ketika, Pasukan Kucing Hitam dengan gagah berani melakukan penyerbuan terhadap tangsi polisi Belanda di Kota Tabanan.   Kepala Polisi Belanda tersebut, nyaris terbunuh.

Pemuda gerilya di Kabupaten Badung, juga keadaannya tidak berbeda dengan kabupaten atau daerah lainnya di Bali.  Pemuda gerilya dengan cekatan membasmi mata-mata Belanda yang terdiri atas bangsa awak atau bangsa sendiri.  Dengan terbasminya mata-mata Belanda itu, wilayah Kabupaten Badung menjadi sangat aman.  Terhindar dari bahaya kurungan atau sergapan serdadu Belanda.  Pemuda gerilya bisa secara leluasa jalan-jalan di kawasan Kota Denpasar.  I Made Widjakusuma Pucuk Pimpinan DPRI Provinsi Sunda Kecil, sempat pula jalan-jalan di kota ini, yang menjadi pusat serdadu penjajah Belanda di Bali.

Dengan adanya serangan yang sporadis dari pemuda gerilya, serdadu Belanda menjadi sangat bingung.  Sering serdadu Belanda melakukan tembakan bertubi-tubi pada tebing-tebing yang curam yang ditumbuhi semak-semak dan pohon-pohon tinggi yang ridang, kalau mereka akan lewat.  Mereka takut, kalau ada pemuda gerilya yang melakukan penghadangan.  Pergerakan atau mobilitas pemuda gerilya sangat cepat, untuk kemudian melakukan serangan lanjutan di tempat lain.  Keadaan ini membuat serdadu Belanda terkecoh dan beranggapan bahwa senjata yang dimiliki pemuda gerilya sangat banyak, dengan jumlah anggota yang sangat banyak juga. Mereka tidak tahu bahwa serangan sporadis tersebut dilakukan dengan senjata itu ke itu saja, dengan anggota pasukan tempur (pemuda gerilya) yang sama.  Hanya mobilitas pasukan tempur itu dibuat cepat.

Pejuang kemerdekaan Indonesia khususnya pemuda gerilya, juga menyelenggarakan penerangan keliling dari desa ke desa dalam upaya lebih membangkitkan jiwa patriotisme rakyat. Operasi teritorial seperti itu ternyata mampu menyadarkan rakyat bahwa pemuda gerilya ternyata dapat menyelesaikan masalah-masalah di perdesaan.  Ternyata banyak rakyat yang datang ke markas perjuangan kemerdekaan untuk menyelesaikan masalah yang dihapi mereka.  Termasuk misalnya masalah sengketa lahan pertanian, masalah perkawinan, dan konflik antar keluarga.  Markas pemuda gerilya atau pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu mirip seperti pemerintahan sipil, yaitu berusaha menyelesaikan segala urusan rakyat.  Dengan demikian rakyat menjadi senang, karena mereka merasa terayomi.

Tugas-tugas sosial yang lainnya, juga tidak terlepas dari perhatian pejuang kemerdekaan Indonesia.  Mereka mengadakan kegiatan pemberantasan buta hurup dan mengajar rakyat menyanyi.  Kegiatan ini dirasakan sangat menguntungkan rakyat di perdesaan, karena mereka menjadi lebih maju.  Misalnya, bisa berbahasa Indonesia, bisa membaca dan menulis, serta bisa menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.  Kemudian, kegiatan ini banyak menarik perhatian penghianat bangsa, lalu mereka berbalik menjadi pejuang kemerdekaan yang setia dan gigih.  Mereka menjadi sadar bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh pemuda gerilya (pejuang kemerdekaan), untuk kemerdekaan, yakni lepas dari belenggu penjajahan, sehingga bisa menjadi negara yang maju.

Inti dari semua yang dipaparkan tersebut menunjukkan, bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia di Bali Pasca-Puputan Margarana, terus berlanjut. Hanya program perjuangan kemerdekaan lebih dititikberatkan di bidang politik daripada di bidang militer.  Hal ini tidak berarti kegiatan militer ditiadakan.  Kegiatan militer lebih bersifat defensif (bertahan) daripada ofensif (menyerang). Taktik ini diterapkan karena pada waktu itu pemuda gerilya mengalami kekurangan senjata dan amunisi.

(Dirangkum dari beragam sumber).            

 

 

Share ke temanmu ya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *