PERTEMPURAN BESAR TANAH ARON

Oleh Wayan Sudarta

Latar Belakang Dalam perjalanan panjang Juni s.d Juli 1946, yang dikenal dengan nama Long March Gunung Agung, pada masa revolusi fisik di Bali, telah terjadi beberapa kali pertempuran antara pasukan pejuang kemerdekaan dengan serdadu Belanda. Pasukan pejuang itu, dikenal dengan nama Pasukan Induk Markas Besar Oemoem Dewan Perdjoeangan Rakyat Indonesia (MBO DPRI) Sunda Kecil. Pada malam hari, setelah berakhirnya pertempuran di Pesagi, Kabupaten Karangasem, Pasukan Induk MBO DPRI Sunda Kecil di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai itu, bergerak menuju Tanah Aron, suatu desa terpencil yang terletak di pangkal Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Sesudah dalam perjalanan selama sehari melalui jalan setapak, hutan belukar dan menyebrangi sungai, pada tanggal 5 Juli 1946 Pasukan Induk tiba di Tanah Aron. Di sini Pasukan Induk diterima oleh Pucuk Pimpinan Markas Besar (MB) DPRI Karangasem Anak Agung Ngurah Suryaningrat dan unsur pimpinan lainnya. Tanah Aron merupakan lokasi yang dianggap paling aman oleh pimpinan MB DPRI Karangasem. Rakyat dari berbagai penjuru yang membantu perjuangan kemerdekaan pada waktu itu, telah pula berdatangan membawa konsumsi untuk menyambut kedatangan Pasukan Induk. Gerakan Pasukan Induk rupanya terus diintai oleh mata-mata Benlanda yang terdiri atas bangsa awak, sehingga kedudukan Pasukan Induk di Tanah Aron cepat pula diketahui oleh serdadu Belanda. Sehari sebelum pertempuran sudah ada laporan kepada Pucuk Pimpinan I Gusti Ngurah Rai, bahwa serdadu Belanda telah mulai bergerak menuju ke tampat kedudukan Pasukan Induk. Serdadu Belanda telah mulai berkumpul pada beberapa desa seperti Ababi, Pidpid, Abang dan Culik di kawasan Kabupaten Karangasem. Setelah diterima laporan dari pasukan pengawal yang ditempatkan di sekitar wilayah Tanah Aron , I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan peta dari dalam tasnya. Peta itu diperhatikan secara seksama karena berkaitan erat dengan siasat yang akan direncanakan dalam menghadapi kepungan serdadu Belanda. Sudah dapat dipastikan olehnya bahwa dengan mencermati gerakan-gerakan serdadu Belanda itu, mereka akan melakukan penyerangan terhadap Pasuan Induk. Untuk membahas masalah itu, dengan serta merta tetapi dengan sikap yang tenang, diadakan pertemuan oleh I Gusti Ngurah Rai yang diikuti oleh beberapa orang stafnya yang andal seperti I Gusti Bagus Putu Wisnu, Subroto Aryo Mataram, Cokorda Ngurah, I Gusti Ngurah Mataram dan I Gusti Ngurah Pindha. Keadaan itu memberikan pengertian, bahwa dalam mengatur siasat pertempuran I Gusti Ngurah Rai bersikap demokratis. Beliau sangat menghargai pendapat atau saran dari para bawahannya. Dalam pertemuan itu disepakati penempatan pasukan pada tiga tempat, yang dipandang strategis. Pasukan Markadi dari Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dengan kekuatan satu peleton ditempatkan di kaki Bukit Pawon, dipakai sebagai tempat pemantauan dan pertahanan. Pasukan ini disiapkan untuk menghadapi serdadu Belanda yang datang dari desa Ababi. Pasukan yang dipimpin oleh I Ketut Wijana ditugaskan menahan serdadu Belanda yang datang dari Desa Pidpid, ditempatkan di atas, yakni jalan menuju ke atas Gunung Agung. Persenjataan dari pasukan ini terdiri atas karaben mitraliur, sten, senapan dan granat tangan. Di lereng Gunung Agung di atas kawasan Tanah Aron, disiapkan pasukan kuat, yakni pasukan Badung yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar. Pasukan ini ditugaskan untuk menghadapi kemungkinan serdadu Belanda yang mundur akibat penghadangan dari pasukan I Ketut Wijana. Persenjataan pasukan yang dipimpim oleh I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar itu, terdiri atas senjata 12,7, bren, mortir, sten dan senapan.   Pertempuran Dahsyat Pada tanggal 7 Juli 1946 sekitar pukul 07.00 seluruh pasukan diperintahkan oleh I Gusti Ngurah Rai untuk mengatur posisi yang telah ditentukan. Ternyata, pergerakan serdadu Belanda sesuai benar dengan yang diperkirakan oleh pimpinan Pasukan Induk. Sekitar pukul 07.30, dari arah Barat Daya datanglah berteruk-teruk iring-iringan serdadu Belanda dengan jumlah kekuatan lebih kurang 200 orang yang kian mendekat. Lebih kurang pukul 09.00 mulai terdengar tembakan-tembakan gencar di Bukit Pawon yakni kedudukan pasukan Markadi. Tembakan-tembakan itu menandakan telah terjadi pertempuran antara pasukan ALRI dengan serdadu Belanda, mengawali pertempuran yang kemudian dikenal dengan nama “Pertempuran Besar Tanah Aron”. Sekitar 20 menit kemudian, terjadi pertempuran sengit antara pasukan I Ketut Wijana yang ditempatkan di atas dengan serdadu Belanda yang datang dari arah Desa Pidpid. Posisi di bagian atas dibagi dua, yakni di bagian paling atas ditempatkan pasukan yang dipimpin oleh I Made Kredek dan di bawah pasukan itu yang berjarak lebih kurang 100 meter ditempatkan pasukan yang dipimpin oleh Suprapto. Serdadu Belanda yang datang dari arah Timur Laut memasuki jalan kecil di antara pasukan I Made Kredek dengan pasukan Suprapto, tetapi lebih mengarah kepada pasukan Suprapto. Karena posisi pasukan Suprapto kurang baik, maka sambil melepaskan tembakan pasukan diperintahkan mundur, sedangkan pasukan I Made Kredek yang berkedudukan di bagian paling atas, melepaskan tembakan secara bertubi-tubi ke arah serdadu Belanda dengan senjata karaben dan mitraliur. Terjadilah pertempuran dahsyat selama lebih kurang 40 menit. Karena kehabisan peluru, pasukan I Made Kredek mengambil taktik mengundurkan diri ke dalam hutan. Serdadu Belanda tidak berani mengejar, sebab dikhawatirkan gerakan itu hanya sebagai suatu taktik belaka, untuk menjebak diri mereka. Karena terlihat pasukan I Made Kredek mengundurkan diri, maka serdadu Belanda juga mengundurkan diri, turun dari lereng Gunung Agung. Ternyata serdadu Belanda yang mundur itu, akhirnya tiba di tempat yang berhadapan dengan keduduan Pasukan Induk yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar yang hanya dibatasi oleh jurang berjarak sekitar 250 meter. Kedudukan pasukan ini berdekatan pula dengan kedudukan I Gusti Ngurah Rai dan pimpinan Pasukan Induk lainnya, seperti I Gusti Bagus Putu Wisnu dan Subroto Aryo Mataram, termasuk beberapa orang pasukan dari MB DPRI Karangasem. Senjata 12,7 dan beragam jenis senjata lainnya telah siap ditembakkan ke arah posisi musuh. Jelas sekali terlihat oleh Pasukan Induk, bahwa serdadu Belanda terdiri atas orang-orang Belanda asli. Pihak Belanda sama sekali tidak mengira, bahwa dihadapan mereka sudah siap Pasukan Induk untuk melakukan penggempuran dalam jangkauan tembakan yang mematikan. Mereka terlihat kepayahan dan ingin beristirahat. Di antara mereka ada yang membuka makanan dan ada juga yang sedang menikmati minuman. Tentu suasana yang demikian itu, merupakan gayung bersambut bagi Pasukan Induk. Sedang asyik-asyiknya serdadu Belanda beristirahat, pasukan di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar diperintahkan oleh I Gusti Ngurah Rai untuk segera melapaskan tembakan. Bergemuruhlah suara tembakan Pasukan Induk ke arah posisi serdadu Belanda tersebut. Akibatnya, sejumlah serdadu Belanda tertembak tewas, bergelimpangan dan terjungkil jatuh ke jurang. Serdadu Belanda lainnya yang tidak tertembak, segera mengambil posisi untuk melakukan pembalasan dengan berbagai jenis senjata serba otomatis. Tembak menembak antara Pasukan Induk dengan serdadu Belanda berlangsung sangat seru, bantuan serdadu musuhpun segera berdatangan. Senjata 12,7 menjadi sasaran utama mereka, karena senjata ini mempunyai jangkauan tembak paling jauh dan yang berhasil merenggut nyawa serdadu Belanda paling banyak. Karena serdadu Belanda yang menuju Bukit Pawon mengundurkan diri, maka pasukan Markadi bergerak menuju pertahanan pasukan I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar. Begitu juga sebagian pasukan yang ditempatkan di atas, yaitu pasukan di bawah pimpinan Suprapto, datang memperkuat pasukan tersebut. Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa ramai dan dahsyatnya pertempuran yang terjadi. Pertempuran berlangsung sampai pukul 15.00. Tatkala itu kabut mulai menutupi tempat pertahanan Pasukan Induk, sehingga pergerakan mereka sulit diketahui oleh serdadu Belanda. Dari posisi Pasukan Induk terlihat serdadu Belanda mundur, kemudian tidak muncil lagi. Segera setelah itu, diadakanlah konsoludasi di pihak Pasukan Induk sampai sekitar pukul 17.00. Dalam konsoludasi itu diketahui bahwa Pasukan Induk masih utuh, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengalami korban jiwa. Semua masih dalam keadaan segar bugar. Dipihak serdadu Belanda menurut informasi dari penduduk setempat yang menyaksikan sendiri dan ikut menghitung, sebanyak 82 orang yang tewas. Keadaan tersebut menggambarkan, bahwa pertempuran Tanah Aron merupakan pertempuran besar dengan kemenangan yang gemilang di pihak Pasukan Induk di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai.   Penutup Demikianlah “Pertempuran Besar Tanah Aron” merupakan peristiwa bersejarah bernilai tinggi bagi perjuangan kemerdekaan pada masa revolusi fisik di Bali. Untuk mengenang dan menghormati peristiwa bersejarah itu, maka di Tanh Aron, yakni di lokasi terjadinya pertempuran heroik tersebut telah didirikan “Monumen Pertempuran Besar Tanah Aron”. Selain itu, setiap tanggal 7 Juli diperingati sebagai Hari Pertempuran Besar Tanah Aron. Semuanya itu, merupakan momentum strategis untuk menyosialisasikan atau membudayakan Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai 1945 (JSN 1945) kepada generasi penerus bangsa.   Daftar Pustaka   Meraku Tirtayasa, I Gusti Bagus. 1995. Bergrilya Bersama Ngurah Rai. Bali Post. Denpasar. Pindha, I Gusti Ngurah. 2013. Perang Bali. Sebuah Kisah Nyata. Dolphin. Jakarta. Sudarta, Wayan; I Gusti Ngurah Wisnu Purwadi; I Ketut Gede Suaryadala; I Ketut Gede Darma Putra; I Nyoman Suada. 2000. Biografi Veteran di Bali (Perjuangan dan Pengabdian) I. Markas Daerah Pemuda Panca Marga Tingkat I Bali. Denpasar. Sudarta, Wayan; I G.N. Wisnu Purwadi dan Nyoman Suada. 2001. Puputan Margarana & Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. Markas Daerah Pemuda Panca Marga Bali. Denpasar.

Share ke temanmu ya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *