PUPUTAN MARGARANA TIDAK BERMAKNA BUNUH DIRI SECARA SIA-SIA

Oleh

I Wayan Sudarta

            Sesungguhnya, Puputan Margarana diilhami oleh jiwa puputan yang telah dilakukan sebelumnya di Bali dalam melawan penjajah Belanda. Sebagai contoh, Puputan Jagaraga Kabupaten Buleleng pada tahun 1849, Puputan Badung pada tahun 1906, dan Puputan Klungkung pada tahun 1908. Semua peristiwa puputan itu, merupakan mata rantai tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan khas Bali yang tercatat dengan tinta emas. Sebab, mengandung nilai luhur yakni jiwa, semangat, dan tekad untuk merdeka. Bebas dari belenggu penjajahan yang hanya membawa kesengsaraan semata bagi seluruh rakyat Indonesia.

            Pengertian Puputan Margarana dapat dijabarkan sebagai berikut. Puputan berasal dari kata puput (bahasa Bali), artinya selesai atau habis. Puput mendapat akhiran an, menajadi puputan (bahasa Bali) juga artinya  selesai atau habis. Margarana terdiri atas dua kata, yaitu marga dan rana. Marga adalah suatu desa yang bernama Desa Marga (sekarang Desa Marga Dauh Puri). Rana artinya pertempuran atau perang. Berdasarkan pemahaman  tersebut, maka Puputan Margarana dapat diartikan sabagai suatu pertempuran atau perang sampai titik darah penghabisan yang dilakukan oleh Pasukan Ciung Wanara melawan serdadu kolonial Belanda di Desa Marga. Puputan Margarana tersebut, dilakukan dengan gagah berani dilandasi oleh perjuangan yang tulus ikhlas, untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

Puputan (pertempuran atau perang habis-habisan ) tersebut baru dilakukan, kalau benar-benar dalam keadaan terjepit menghadapi musuh penjajah. Musuh penjajah sudah dapat dipastikan akan memenangkan pertempuran tersebut. Sebab, mereka memiliki kekuatan yang jauh lebih unggul, baik dari jumlah personal maupun dari segi persenjataan. Puputan dilakukan, karena terdorong oleh tekad lebih baik mati di medan laga sebagai kesatria atau pahlawan (Veteran Anumerta) daripada ditawan oleh musuh atau menyerah kepada musuh penjajah. Semua itu dilakukan dengan penuh keikhlasan dan dengan segala pengorbanan, karena tidak sudi dijajah.

            Berdasarkan     uraian tersebut dapat dapahami, bahwa puputan (Puputan Margarana) bukanlah bermakna bunuh diri secara sia-sia. Melainkan suatu tindakan terhormat dan pantang menyerah dalam membela kebenaran dan memberantas keangkaramurkaan. Malah menurut kepercayaan Hindu, roh orang yang melakukan bunuh diri tidak mendapat tempat yang layak di dunia niskala (alam gaib). Dengan kata-kata lain, tidak dapat masuk ke sorgaloka an tetapi akan menjadi roh gentayangan. Menurut ajaran agama Hindu, orang yang melakukan bunuh diri bukanlah orang kesatria, melainkan orang pengecut dan tersesat dalam menghadapi karmanya.

            Dalam Puputan Margarana tersirat juga pemahaman, bahwa hidup terjajah di bawah kekuasaan bangsa asing berarti hilangnya harkat dan martabat bangsa. Terasa hina dan menderita malu. Gugur di medan pertempuran untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan pahlawan sejati yang berjiwa kewsatria. Demikianlah gambaran mengenai makna Puputan Margarana.

            Patut juga diketahui, bahwa jumlah anggota Pasukan Ciung Wanara yang terjun ke medan pertempuran pada saat itu, sebanyak 96 orang. Mereka sebagian kecil dari Pasukan Induk Markas Besar Umum Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (MBU DPRI) Sunda Kecil, yang berjumlah 1.000 orang. Mereka semuanya bersenjata modern dan semuanya gugur merangkul ibu pertiwi bermandikan darah. Serdadu Belanda yang tertembak tewas pada peristiwa tersebut jauh lebih banyak daripada Pasukan Ciung Wanara yang gugur, yakni lebih kurang 350 orang.

             Pasukan Ciung Wanara yang gugur dalam Puputan Margarana rata-rata berumur 35,6 tahun, berkisa\r di antara 20 s.d 48 tahun. Dari seluruh anggota Pasukan Ciung Wanara yang gugur saebagai kusuma bangsa (Veteran Anumerta) itu, sebanyak tiga orang sebagai pahlawan (Veteran Anumerta) tidak dikenal, karena tidak teridentifikasi. . Sebanyak lima orang mantan serdadu Jepang yang bergabung dengan Pasukan Ciung Wanara. Mereka dengan niat baik bersama-sama terjun ke medan laga bertempur melawan serdadu kolonial Belanda, demi kemerdekaan Indonesia.

                                                                                                                                                                               Dirangkum dari beragam sumber.

Penulis adalah Wakil Ketua

Yayasan Kebaktian Proklamasi.

Share ke temanmu ya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *